2016-06-07

Nafsu dalam Bahasa Aceh

Ilustrasi Bahasa Aceh
Setiap bahasa memiliki kosakata sendiri untuk mengungkapkan keinginan, harapan, permintaan, atau ajakan. Dalam tata bahasa Indonesia, kosakata itu dikenal dengan sebutan modalitas. Kata-kata seperti ingin, mau, tolong, ayo, mari, silakan merupakan contoh modalitas (intensional).
Dalam bahasa Aceh pun seperti itu. Bila Anda sering menggunakan meu, keumeung, neuk, tulông, jak itulah contohnya. Kata-kata tersebut cukup sering digunakan dalam cengkerama sehari-hari dan seolah menjadi kosakata wajib dalam pertuturan.
Namun demikian, dalam bahasa Aceh di daerah tertentu juga terdapat modalitas yang mengungkapkan keinginan terhadap/untuk melakukan sesuatu. Dikatakan di daerah tertentu karena memang daerah lain yang juga menggunakan bahasa Aceh sama sekali tidak menggunakan kata ini, bahkan boleh dikatakan hampir tidak ditemukan.
Kata yang saya maksud adalah naksu. Mengenai pemakaiannya dapat dicermati kalimat seperti pada judul di atas. Naksu digunakan oleh sebagian masyarakat Aceh Barat Daya, seperti Blang Pidie dan Susoh. Begitu pula wilayah Aceh Selatan. Meski demikian, bukan berarti masyarakat di wilayah tersebut tidak mengenal kata meu, keumeung, neuk. Ketiga kata ini juga acapkali dipakai oleh masyarakat Aceh, hanya saja intensitas pemakaiannya tidaklah sesering naksu.
Dilihat dari segi arti, naksu memiliki kesamaan makna dengan meu, neuk, keumeung yang sama-sama mengungkapkan keinginan. Bedanya adalah naksu ditilik secara kebahasaan diklasifikasikan sebagai kata yang memiliki makna sendiri (makna leksikal). Artinya, kata ini dapat digunakan tanpa menuntut harus ada kata yang lain. Berbeda dengan meu, neuk, dan keumeung. Kata-kata itu tidak punya makna tanpa kehadiran kata lain.
Tampaknya, naksu punya relasi erat dengan nafsu beserta dengan karakaternya. Bukankah yang memandu segala keinginan kita adalah nafsu. Atas dasar inilah mungkin naksu dipilih oleh masyarakat penutur bahasa Aceh di wilayah yang sebutkan di atas.[]

No comments:

Post a Comment

Komentarilah dengan Bijak dan Rekonstuktif. Terima Kasih atas Komentar Anda!