Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

2016-05-05

Bahasa Lisan dan Tulisan, Manakah Lebih Dulu Ada?

8:00 AM
Untuk berkomunikasi, manusia menggunakan bahasa. Penyampaiannya dapat secara lisan ataupun tulisan. Komunikasi lisan berlangsung dengan cara tatap muka atau menggunakan media, seperti gawai. Secara lisan pula, pihak yang terlibat dalam pembicaraan dapat mendengar langsung substansi percakapan. Maka, kecil kemungkinan terjadi salah paham. Kalaupun terjadi, koreksi dapat segera dilakukan.

Lain halnya dengan tulisan. Komunikasi jenis ini lazim terjadi tanpa tatap muka. Perantinya berupa kertas. Melalui kertas, si penyampai pesan mengutarakan segala pikirannya. Pada bentuk komunikasi ini rentan terjadi kesalahpahaman akibat ketidaktepatan kata atau kalimat yang digunakan. Koreksi pun tak dapat dilakukan segera. Ini pula yang menjadi kekurangan komunikasi tulisan. Namun, sebagai bukti autentik, tulisan jauh lebih kuat daripada lisan.

2016-01-05

Ie Beuna

26 Desember 2004 menyisakan memori bagi orang Aceh. Hingga kini peristiwa yang terjadi bertepatan dengan14 Zulkaidah 1425 Hijriah dalam hitungan bulan Islam, masih belum lekang dikikis waktu.
Pada tanggal itulah sebagian Aceh diluluhlantak oleh gelombang besar. Banyak orang meregang nyawa diamuk keganasan gelombang yang konon katanya memiliki kecepatan 500-1000 km/per jam, setara dengan kecepatan pesawat terbang.
Sejak saat itu di Aceh orang begitu akrab dengan kata ‘tsunami’. Saking akrabnya, kata tersebut menjadi bagian dari kosakata bahasa Aceh. Dikatakan demikian karena sebenarnya tsunami bukanlah kata asli bahasa Aceh, melainkan pinjaman dari bahasa Jepang.
Dalam bahasa asalnya, ‘tsunami’ sebenarnya terdiri dari dua kata, yaitu tsu dan nami. Tsu berarti pelabuhan, sedangkan nami berarti gelombang atau ombak sehingga bermakna ombak besar di pelabuhan. Tak jauh berbeda dari bahasa asalnya, kata tsunami yang dituturkan oleh orang Aceh juga merujuk pada objek yang sama, yaitu gelombang besar akibat  gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.
Meski demikian, pelafalan kata tsunami dalam bahasa Aceh ada dua variasi. Pertama, huruf /s/ pada  kata itu dilafalkan seperti huruf ث /ts/ dalam bahasa Arab. Kedua, huruf /s/ dilafalkan seperti huruf /s/ dalam bahasa Indonesia. Variasi pelafalan pertama umumnya digunakan oleh penutur bahasa Aceh wilayah barat-selatan, sedangkan variasi kedua umumnya digunakan oleh penutur wilayah timur.
Kendati kata tsunami sering digunakan oleh orang Aceh, bukan berarti bahasa Aceh tak memiliki kosakata sendiri yang sama arti dengan kata tersebut. Ie beuna adalah contoh kosakata bahasa Aceh yang juga bermakna gelombang besar yang mahadahsyat. Kata ini penggunaannya juga sangat populer dalam masyarakat. Seperti halnya dalam bahasa Jepang, ie beuna dalam bahasa Aceh juga terdiri dari dua kata, ie bermakna air dan beuna bermakna gelombang yang sangat besar, mahadahsyat.
Sebenarnya dalam bahasa Aceh, selain ie beuna, ada juga istilah lain, yaitu alôn buluek. Namun, istilah ini kalah populer penggunaannya tinimbang ie beuna. Alôn buluek juga terdiri dari dua kata, yaitu alôn berarti gelombang dan buluek berarti sangat besar, mahadahsyat. Akan tetapi, tidak seperti ie beuna, alôn pada alôn buleuk tampaknya bukan kosakata asli bahasa Aceh, melainkan kata serapan dari bahasa Tagalog, Filipina. Dalam bahasa tersebut, alôn juga bermakna sama, yaitu gelombang.
Dengan demikian, selain kata sunami, bahasa Aceh memiliki ie beuna dan alôn buleuk untuk menyebutkan gelombang yang melumat Jepang pada 2011.[]

2015-12-28

Khanduri dan Asal-Usulnya

12:41 PM
Ilustrasi Khanduri/www.glory-travel.com
Aceh boleh dikatakan sebagai salah satu provinsi yang kaya akan beragam tradisi kenduri. Hampir setiap bulan, baik dalam hitungan hijriah maupun masehi, ada saja kenduri.

Seperti bulan ini, Rabiul Awal, di berbagai daerah di Aceh dilaksanakan kenduri maulid. Bukan hanya ketika Rabiul Awal, kenduri maulid juga berlangsung pada bulan Rabiul Akhir hingga Jumadil Awal. Boleh dikatakan bahwa kenduri maulid di Aceh dilaksanakan selama tiga bulan berturut-turut (dalam hitungan Hijriah).

Tak hanya itu, Aceh punya nama khusus untuk bulan maulid. Rabiul Awal dalam bahasa Aceh dikenal dengan buleun Moklet, Rabiul Akhir sebagai Adoe Moklet, dan Jumadilawal dikenal dengan nama Moklet Seuneulheuh.

Meski kenduri cukup populer di Aceh, tidak banyak yang tahu asal-usulnya.
Dalam bahasa Aceh kenduri berarti kanduri. Ada juga yang mengucapkan khanduri dan khauri. Variasi seperti ini dikenal dengan istilah dialek, yaitu variasi bahasa suatu kelompok masyarakat yang tinggal di daerah tertentu.

Perlu diketahui bahwa istilah khanduri bukan kosakata asli bahasa Aceh, tetapi dari Gujarat. Khanduri bermakna makanan dari Khandahar, yaitu sebuah daerah di Gujarat. Istilah yang semakna dengan itu telah ada dalam bahasa Aceh, yaitu meutandara ‘makan bersama sambil bersuka ria dan berebutan’.

Setelah istilah khanduri masuk ke Aceh, istilah meutandara hanya digunakan untuk binatang, misalnya beberapa ekor anjing sedang meutandara di pinggir sungai. Anjing-anjing itu sedang memakan bangkai sambil bersuka ria dan berebutan.

Tentunya istilah meutandara tidak cocok lagi digunakan untuk manusia yang beradab. Oleh karena itu, digunakanlah kata khanduri yang dibawakan oleh pedagang-pedagang Islam dari Gujarat yang masuk ke Aceh. Akhirnya, istilah khanduri pun menjadi populer hingga sekarang.

Karena perkembangannya, khanduri bukan lagi bermakna makanan atau masakan dari Khandahar karena tidak ada lagi orang Khandahar yang memasak di Aceh walaupun mungkin bumbu yang digunakan dalam masakan dan cara memasak masih mengikuti orang-orang Khandahar.

Bagi masyarakat Aceh dewasa ini, khanduri berarti makan bersama sambil menjalin silaturahmi. Hal itu dilakukan untuk berbagai tujuan seperti sebagai rasa syukur atas suatu rahmat atau nikmat yang diperolehnya.

Sebagai bagian dari kebudayaan, khanduri telah menyatu dalam setiap tindakan kehidupan masyarakat Aceh. Akibatnya, hampir dalam setiap aktivitas masyarakat, baik individu maupun kelompok diawali dan diakhiri dengan khanduri. Dalam setiap bentuk kesyukuran dilakukan khanduri, begitu pula dalam setiap kemalangan. Orang-orang kaya melakukan khanduri, demikian juga dengan orang miskin.

Bahkan diyakini oleh sebagian orang Aceh bahwa khanduri merupakan suatu keharusan, misalnya khanduri orang meninggal. Biasanya yang tidak melaksanakan khanduri dikucilkan oleh masyarakat.
Khanduri memang sudah sepatutnya dipertahankan dan dilestarikan sebab tetap konsisten pada makna dan tujuannya, yaitu menjalin silaturahmi dan rasa kebersamaan dalam mengimplementasikan kesyukuran kepada Allah swt., misalnya khanduri blang, khanduri laôt, khanduri glé, dan khanduri walimah.


Sesuai dengan namanya, Serambi Mekah, masyarakat Aceh senantiasa bersyukur atas segala yang mereka peroleh dalam kehidupannya. Karena itu, masyarakat Aceh zaman dulu setiap bulan melakukan khanduri bersama, tiada bulan tanpa khanduri. Khanduri yang dilakukan seperti bulan khanduri boh kayée, bulan khanduri ie bu, bulan khanduri apam, dan bermacam khanduri lainnya. []

Sumber: Buku Budaya Aceh, 2009, Pemerintah Aceh

2015-12-02

Pajôh Mangat (Bagian II)

3:55 PM
Ilustrasi kenduri/kompasiana.com
Kenduri merupakan suatu kearifan lokal orang Aceh. Kali ini dibahas beberapa jenis kenduri lainnya yang juga merupakan bagian dari kearifan lokal itu.

Sebelum itu, pada bagian ini disebutkan kembali beberapa kenduri

2015-11-17

Gelar Strata Sosial di Aceh

11:23 AM
Foto: factsnotfantasy.blogspot.com
Anda barangkali tak asing lagi dengan kata-kata berikut: sultan, tuanku, teungku, teuku, ampon, cut, sayed, syarifah,sultanah. Kata-kata ini gelar strata sosial di Aceh dan telah digunakan sejak zaman Kerajaan Aceh hingga kini.

Gelaran-gelaran sosial tersebut awalnya tidak digunakan

2015-10-12

Bahasa Aceh Dialek Aceh Besar

11:00 AM
Ilustrasi Foto: soaltescpns.info
Barotö hane lônjak jadèh u rumoh jih. Gare-gare nyan, jih pakèk beungèh keu lôn.
Bagi sebagian masyarakat Aceh Besar, kata-kata dan urutannya yang digunakan dalam kalimat tersebut sudah sangat familiar. Ini karena

2015-10-01

Perilaku Adat Masyarakat Aceh: Peusijuek

10:00 AM
Aceh kaya akan tradisi. Kekayaan ini telah dimiliki sejak dulu dan masih dilestarikan hingga kini. Tradisi yang juga merupakan warisan indatu itu bermakna amat simbolis untuk mendukung kegairahan hidup dan silaturahmi masyarakat Aceh. Salah satu tradisi yang dimaksud adalah peusijuek.

Menurut R.A. Hoesein Djajaningrat,

2015-09-15

Bahasa Aceh Akan Punah?

8:00 AM


Pembaca, pernahkah terlintas di benak Anda mengenai masa depan bahasa Aceh ke depan, tetap ekses dengan jumlah penutur yang banyak atau punah? Pertanyaan ini terjawab bila kita kemudian melihat fakta terkini.

Di masyarakat banyak orang tua berkomunikasi dengan anaknya dengan bahasa Indonesia meski pada kenyataannya tak begitu fasih

2015-09-14

Bahasa Aceh dari Mana?

8:00 AM


Berbicara tentang asal mula bahasa Aceh, tentu saja berhubungan dengan genetis bahasa dan latar belakang historis bahasa itu. 

Genetis bahasa berkaitan dengan asal suatu bahasa atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua, sedangkan historis bahasa berhubungan dengan sejarah bahasa itu yang dibawa oleh penggunanya ke daerah lain. 

Genetis bahasa melahirkan istilah klasifikasi genetis, yaitu pengklasifikasian bahasa berdasarkan garis-garis keturunan bahasa itu. Artinya, suatu bahasa berasal atau diturunkan dari bahasa yang lebih tua. Klasifikasi jenis ini dalam ilmu bahasa termasuk ke dalam kajian linguistik historis komparatif.
Menurut teori klasifikasi genetis ini, suatu bahasa pro (bahasa tua, bahasa semula) akan pecah dan menurunkan dua bahasa baru atau lebih. Lalu, bahasa pecahan ini akan menurunkan pula bahasa- bahasa lain. Kemudian bahasa-bahasa lain itu akan menurunkan lagi bahasa-bahasa pecahan berikutnya.

Klasifikasi genetis dilakukan berdasarkan kriteria bunyi dan arti, yaitu atas kesamaan bentuk (bunyi) dan makna yang dikandungnya. Bahasa- bahasa yang memiliki sejumlah kesamaan seperti itu dianggap berasal dari bahasa asal atau bahasa proto yang sama.

Merujuk pada teori klasifikasi tersebut, muncullah simpulan bahwa bahasa Aceh mestilah berasal dari bahasa lain yang lebih tua. Hasil penelitian selanjutnya memperlihatkan bahwa bahasa Aceh diduga berasal dari bahasa-bahasa Campa yang sampai sekarang masih digunakan di Vietnam, Kamboja, dan Hainan di Cina. Teguh Susanto, dalam tulisannya “Asal-Usul Bahasa Aceh” menjelaskan bahwa ada dugaan, dulu terjadi proses migrasi penduduk dari kerajaan Campa yang akhirnya mereka sampai di semenanjung Sumatera, yaitu di Aceh saat ini.

Dugaan senada juga dikemukakan oleh Denys Lombard dalam bukunya Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Ia menyebutkan bahwa bahasa Aceh bermula dari datangnya seorang pangeran dari Campa, yaitu Šah Pu Liaŋ (liŋ). Ia diusir dari ibu kotanya oleh bangsa Vietnam, lalu mencari perlindungan di Aceh dan membentuk bangsa baru. Tentu saja pembentukan bangsa baru ini sangat berpengaruh terhadap pemakaian bahasa Aceh sebagai alat komunikasi mereka. 

Dugaan yang paling kuat memang bahasa-bahasa Aceh berasal dari bahasa-bahasa Campa. Ini berdasarkan perbandingan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa tersebut.

Berkaitan dengan adanya kesamaan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa, saya dapat mengemukakan beberapa contoh berikut. Kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘cagee’, dalam bahasa Campa ada kata ‘cagau’ yang artinya ‘beruang’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘cicem’, dalam bahasa Campa ada kata ‘cim, ciin’ yang artinya burung, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘glee’, dalam bahasa Campa ada kata ‘glai’ yang artinya ‘hutan’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘hu’ dalam bahasa Campa juga ada kata ‘hu’ yang sama-sama artinya nyala, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘bèe khing’, dalam bahasa Campa juga ada kata ‘kheng’ yang artinya bau tidak sedap, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘piyôh’ dalam bahasa Campa juga ada kata piyôh yang artinya ‘singgah’, kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘klep mata’, dalam bahasa Campa juga ada ‘klek mota’ yang berarti kedip mata’ kalau dalam bahasa Aceh ada kata ‘rimung’ dalam bahasa Campa ada kata ‘rimong’ yang artinya harimau. 

Meski ada kesamaan bunyi antara bahasa Aceh dan bahasa Campa tersebut, ada pula pihak yang menduga bahwa bahasa Aceh bukan hanya dari bahasa Campa, melainkan juga dari sejumlah bahasa nusantara dan bahasa internasional seperti bahasa Inggris. Namun, untuk membuktikan hal ini, tentu saja diperlukan penelitian lanjutan agar misteri asal mula bahasa Aceh terungkap dengan jelas. [] 

2015-09-12

Asal Kata "Aceh"

8:00 AM
Aceh menyimpan banyak misteri. Selain belum jelasnya kepastian asal mula bahasa Aceh, misteri yang tampaknya juga belum terpecahkan hingga sekarang adalah tentang nama Aceh. Bila diselisik lebih jauh tentang penulisan kata Aceh dalam buku-buku sejarah, ditemukan kata Achei, Achin, Atchin, Atjeh, Aceh.

Konon katanya, nama ‘Aceh’ merupakan singkatan dari Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Hal ini menurut sebagian orang didasarkan pada dua hal. Pertama, orang Aceh terdiri dari Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Kedua, orang Aceh merupakan keturunan dari bangsa-bangsa itu. Akan tetapi, hal itu tampaknya tidak memiliki sumber yang jelas dan hanya merupakan spekulasi belaka. Dikatakan demikian karena berdasarkan catatan sejarah, yang pernah mendatangi Aceh dan menetap di Aceh bukan hanya Arab, China, Endia (India), Hindia Belanda. Bangsa-bangsa seperti Portugis, Vietnam, dan Afrika juga pernah mendatangi Aceh.

Sebenarnya berkaitan dengan nama Aceh ini, banyak ahli yang telah melakukan penelitian. Salah satunya adalah Denis Lombard.

Berkaitan dengan nama ‘Aceh’, Lombard menyebutkan, nama Aceh baru disebut dengan pasti sekali dalam Suma Oriental yang dikarang di Malaka sekitar 1950 oleh Tomé Pires yang berkebangsaan Portugis. Lombard selanjutnya mengatakan, dalam buku itu kata ‘Aceh’ dieja ‘Achei’.
Beberapa tahun kemudian, dalam buku yang ditulis oleh Barros yang berjudul Da Asia disebutkan, pengejaan kata ‘Aceh’ dengan ‘Achei’ telah mengalami perubahan yang berbentuk adanya penyengauan bunyi pada akhir kata, yaitu ‘Achem’. Penyengauan bunyi ini juga terdapat dalam naskah-naskah Eropa abad ke-16, 17, dan 18. Di dalam naskah-naskah tersebut, kata ‘Aceh’ dieja ‘Achin’ dan ‘Atchin’.

Dalam sistem transkripsi ilmiah yang dikemukakan oleh L.C. Damais, kata ‘Aceh’ ditulis ‘Acih’. Lombard mengungkapkan, penulisan kata ‘Aceh’ dengan ‘Acih’ adalah penulisan yang sangat tepat jika ditinjau secara ilmiah. Dalam hal ini, Lombard memberikan alasan sebagai berikut.
"Sesuai dengan sistem tranksripsi ilmiah yang dikemukakan oleh L.C. Damais, penulisan kata Aceh lebih tepat ditulis Acih. Tulisan ini memang yang paling baik mengungkapkan ucapannya dewasa ini. Setiap fonem dicatat dengan satu huruf saja, dan huruf i lebih baik daripada huruf e untuk mencatat huruf hidup kedua yang ucapannya sangat mendekati /i/…."

Selanjutnya, sekitar akhir abad ke-19, menjelang peperangan yang menumpahkan darah di seluruh bagian utara Sumatera, nama Aceh dipakai untuk menunjukkan seluruh daerah yag membentang dari ujung utara pulau itu sampai dengan suatu garis khayal yang menghubungkan Tamiang di pantai timur dengan Barus di pantai barat. Menurut Snouck Hurgronje, penduduknya membandingkan bentuk wilayah mereka yang kira-kira menyerupai segitiga itu dengan bentuk jeu-èe (tampah tradisional).

Dalam perkembangan penulisan selanjutnya, ‘Aceh’ sering pula ditulis ‘Atjeh’. Jika dikaitkan dengan sejarah perkembangan ejaan, penulisan seperti itu tentu saja merujuk pada ejaan lama, tepatnya ejaan van Ophuysen (1901-1947). Dalam ejaan ini, yang mewakili huruf /c/ seperti yang digunakan sekarang adalah /tj/. Jadi, untuk menyebutkan ‘cara’, misalnya, dalam ejaan lama ditulis /tjara/.

Sebenarnya, adanya perbedaan penulisan untuk nama Aceh sejak dulu semata-mata karena pengaruh bahasa orang yang mengucapkan nama Aceh. Pengaruh itu sangat kentara terdengar di segi pelafalan. Orang Portugis akan menuliskan kata Aceh sesuai dengan pelafalan bahasa Portugisnya, begitu pula dengan orang China, Jepang, dan orang-orang asing lainnya. Untuk contoh lain, sebut saja misalnya bunyi kokokan ayam. Orang Aceh memiliki kosakata untuk kokokan ayam, yaitu ‘uk ‘uk, ‘uk, ‘uk. Dalam bahasa Bali, bunyi kokokan ayam adalah kongkorongok, sedangkan bahasa Indonesia adalah kukuruyuk.[]

foto: http://home.iae.nl/users/arcengel/NedIndie/photos.htm

2012-07-15

Riwayat Bioskop di Jeuram, Nagan Raya

10:10 PM
oleh Safriandi

Jika hendak ke Jeuram, kita terlebih dahulu akan melewati desa yang dinamakan Padang Parom. Tepat di depan pasar ikan, terdapat jalan yang sering disebut masyarakat di sana dengan nama Jalan PLN. Disebut demikian karena di jalan ini terdapat Kantor PLN, tempat masyarakat Padang Parom dan sekitar membayar rekening listrik. Jika melewati jalan PLN ini, kita akan menemukan konstruksi bangunan yang semipermanen. Bangunan semipermanen ini diapit oleh jalan di sebelah kiri dan kanannya. Tak ada aktivitas penting yang berlangsung , baik di luar maupun di dalam gedung selain beberapa anak remaja yang terlihat sedang bermain bulutangkis di dalam gedung. Di luar gedung juga terlihat anak-anak bermain kejar-kejaran dan petak umpet.

2012-07-14

Teuku Markam

12:34 PM
Tugu Monas itu menjulang tinggi. Ia didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Tugu ini tingginya 132 meter (433 kaki). Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah Presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum tanggal 12 Juli 1975. Letaknya tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala.